Graphomaster Gallery
workshop-grapho-for-better-life-16-17-juli-4 workshop-grapho-for-better-life-16-17-juli-1 graphology-grafology-tanda-tangan15 3 graphology-grafology-tanda-tangan10 grapho-workshop-for-pln-wil-lampung-02
Buaya Show @ Indosiar 11 April 2012 dan 22 Feb 2012
bs10 bs9 bs8 bs7 bs4 bs3
Workshop “Grapho For Better Life”

Graphology

Tulisan tangan sebenarnya adalah tulisan dari otak manusia yang merupakan gambaran dari kepribadian setiap individu. Pikiran manusia secara sadar menentukan apa yang kita tulis dan alam bawah sadar mengontrol bagaimana cara kita menulis. Jadi, analisa tulisan tangan atau Graphology / Grafologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tulisan tangan untuk menilai karakter kepribadian seseorang.

Sejarah Graphology / Grafologi

Anda mungkin berpikir bahwa graphology adalah ilmu pengetahuan yang baru, namun faktanya sejarah graphology atau ilmu analisa tulisan tangan sebetulnya sudah dimulai sejak ribuan tahun yang lalu. Enam ribu tahun yang lalu bangsa Cina kuno telah mempelajari analisa tulisan tangan mereka, mengkaitkannya dengan sifat-sifat tertentu yang mereka miliki.

Di Eropa beberapa ribu tahun yang lalu tepatnya di Yunani dan Romawi, analisa tulisan tangan sudah dilakukan pada tingkatan yang tinggi. Filsuf Yunani kuno – Aristoteles (384-322 SM) mengutip:”Ucapan adalah symbol dari pengalaman mental dan Tulisan adalah symbol dari Ucapan”. Seperti layaknya semua orang tidak mempunyai suara yang sama, demikian juga semua orang tidak mempunyai tulisan yang sama persis.

Ilmu graphology telah bertahun-tahun menjadi alat untuk meningkatkan kesadaran seseorang mengenai karakter dan personality nya. Tiga ribu tahun yang lalu Kaisar Nero menyatakan bahwa dia tidak mempercayai seorang karena tulisan tangannya dinilainya berbahaya dan tidak setia.

Sutonius (69-140M), seorang sejarawan Romawi, mengikutsertakan analisa tulisan tangan dalam karyanya, Lives of the Caesars.

Para biarawan di abad pertengahan juga mempelajari bagaimana tulisan tangan menyatakan karakter seseorang.
“Camilio Baldi”, seorang fisikawan Itali, pada tahun 1622 menulis buku pertama yang tercatat sebagai buku graphology. Buku itu diberi judul “Bagaimana menilai kepribadian seseorang dari suratnya”. Dia memberikan pernyataan mengenai fakta bahwa semua penulis menulis dengan cara berbeda dan tidak ada seorangpun yang tulisannya sama persis.

Namun kata “graphology” pertama kali dipakai oleh Abby Michon dari Paris. Kata itu diambil dari bahasa Yunan ‘graph’, yang berarti ‘menulis’ dan “olong” yang berarti “belajar”. Michon mengkoleksi dan mempelajari ribuan specimen tulisan tangan, dan bertahun-tahun kemudian menerbitkan system analisanya. Dia dan murid-muridnya mendirikan perkumpulan para graphology di Paris, yang aktif sampai terjadinya perang dunia II.

“Ludwing Klages”, seorang filsuf Jerman yang terkenal, menegakkan hukum dan prinsip-prinsip dasar graphology pada akhir 1800 dan awal 1900, dan masih digunakan oleh banyak graphologist hingga kini. Hukum dasar “Klages” menyatakan bahwa setiap ekspresi gerakan tubuh menyatakan tekanan dan membentuk kepribadian. Klages juga memberikan dasar konsep mengenai “tingkatan bentuk”, yang dinilai dari irama menulis. Beberapa buku yang diterbitkannya adalah “Tulisan Tangan dan Karakter” dan “Masalah dengan Graphology”.

“Gordon Allport”, dalam riset nya di Klinik Psychology Harvard, pada tahun 1930, mendasari risetnya dengan asumsi bahwa :

  • Kepribadian itu konsisten.
  • Gerakan adalah pernyataan dari Kepribadian.
  • Sikap dan ekspresi gerakan seseorang adalah konsisten satu sama lain.

Dengan demikian, dia menjelaskan dasar-dasar dari evaluasi kepribadian seseroang dan bagaimana itu ditunjukkan dari tulisan tangannya.

Fakta-fakta Yang Perlu Disoroti

  • Berdasarkan catatan keanggotaan dari organisasi graphology, ada lebih dari 20.000 graphologist yang telah lulus di Amerika Serikat. Meskipun, kebanyakan ahli graphology tersebut menerima sertifikat melalui kursus correspondence yang tidak meminta pesertanya hanya psikolog atau mahasiswa kriminologi. Hal ini berarti bahwa setiap orang dengan tidak dibatasi kualifikasi pendidikan dan pengalaman dalam bidang graphology, dapat mengikuti kursus graphology.
  • Studi yang dilakukan oleh ahli graphology di Amerika, yang dinyatakan pada acara tahunannya, mengumumkan bahwa graphology dapat menjadi alat yang dipercaya untuk menentukan beberapa trait seperti kejujuran, kestabilan emosi, kemungkinan bertindak kasar dan judgment.
  • Tidak seperti tes psikologi, graphology tidak akan menjadi kuno karena tidak menggunakan pertanyaan tes yang selalu diperbaharui atau mendiskriminasi hal yang berhubungan dengan kebudayaan. Dan tidak menjadi masalah apakah si penulis berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris.
  • Analisa tulisan tangan sebaiknya digunakan sebagai tambahan dan tidak sebagai pengganti dari cara yang telah ada.
  • karena tidak ada pembedaan ras, kebudayaan, dan gender untuk kepandaian dan kepribadian, maka analisa tulisan tangan cenderung objektif, tidak bias dan tidak diskriminatif.
  • Di Amerika, kurang lebih 5.000 perusahaan menggunakan analisa tulisan tangan untuk berbagai kegunaan, termasuk penerimaan pegawai dan team-building.
  • Para pengusaha di Eropa umumnya menggunakan analisa tulisan tangan dalam pelatihan pekerja. Di Perancis dan Swiss, kurang lebih 80% dari perusahaan besar menggunakan graphology sebagai tes untuk mempekerjakan seseorang.
  • Graphology dipelajari di fakultas Psikologi di beberapa universitas di Jerman, Perancis, Swiss, Belanda dan Israel.
  • Tulisan tangan, seperti yang dilihat oleh Mahkamah Agung, diakui sebagai public domain. Tidak ada hukum yang menghalangi penggunaan dari contoh tulisan tangan dan tidak ada penuntutan perkara/perkara hukum yang melibatkan ahli graphology.
  • Graphology telah dipraktekan selama berabad-abad dan sekarang lebih dari 2.200 perusahaan yang bergerak dalam analisa tulisan tangan.
  • Berdasarkan dari psikolog Davis Lester, Ph.D., “… kebanyakan dari studi yang telah dilakukan menunjang valisitas dan akurasi dari analisa tulisan tangan. Lebih jauh, ada sejumlah studi yang cukup banyak yang dilakukan dan telah membuktikan kesuksesan graphology dalam menilai orang, sehingga kita harus menerima bahwa analisa tulisan tangan adalah sesuatu yang valid. “ (The Psychological Basis of Handwriting Analysis, The Relationship of Handwriting to Personality and Psychotherapy, David Lester, Ph.D., Nelson Hall, Chicago, 1981, page 53)

3 Responses to “Graphology”

  • ipung:

    2tahun lebih saya tertarik akan grafolog,saya hanya dapat membaca dari artikel dari internet dan sesekali diskusi dengan teman saya yang sedang belajar di fak.psikologi, ada pernyataan dari teman saya bahwa “grafologi sekarang kurang relevan untuk satu-satunya ilmu menilai karakter seseorang mestinya harus didampingi dengan tes wawancara atau tes psikolog lainnya,misalnya orang yang sedang capek atau sakit untuk menulis pasti akan berubah polanya,apalagi orang yang sudah lama tidak menulis(pekerja bangunan,petani)” dan ditambah lagi “grafolog merupakan ilmu yang sudah lama dan kebanyakan referensinya dari buku-buku lama yang sudah lebih dari 20th alias belum di-update.”

    Apakah memang benar pernyataan temannya tersebut?mohon komentarnya

    • Pertanyaan yang sangat menarik untuk dibahas …. pertama-tama, saya menanggapi pernyataan “satu-satunya” ilmu menilai karakter seseorang, saya pearcaya grafologi bukan satu-satunya. Ada banyak cara dan banyak test yang tersedia, misalnya personality plus test, Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), wawancara, dll, yang masing-masing mempunyai kelebihan / kekurangan. Test / assement tersebut relevan digunakan terutama dalam rekruitmen. Namun demikian, grafologi juga mempunyai kelebihan misalnya : kecepatan analisa, serta memperlihatkan banyak indikator-indikator “sub-conscious / bawah sadar” yang seringkali tidak ditunjukkan oleh test-test yang lain, terutama dalam wawancara. Banyak sekali kasus karyawan yang dipekerjakan karena pada saat wawancara begitu antusias dan percaya diri, namun setelah dalam pekerjaan aktual ternyata kehilangan “motivasi” yang ditunjukkan sebelumnya. Jadi saya setuju bahwa penggunaan grafologi bukan satu-satunya untuk assesment, namun adalah pelengkap yang amat sangat berguna. Btw, didalam workshop kami juga mengajarkan tipe-tipe karakter seseorang versi personality plus, tentunya kami kaitkan dengan tipe-tipe tulisannya.

      Membahas bahwa grafologi adalah ilmu yang tidak pernah diupdate, saya kurang setuju. Memang grafologi banyak berkembang diabad terakhir, namun demikian juga cabang ilmu yang lain. Walaupun banyak referensi yang ditulis sudah cukup lama, namun kenyataannya dalam penerapan tetap relevan dan efektif. Walaupun harus diakui bahwa sekarang ini masyarakat lebih banyak “mengetik” (computer) daripada menulis, namun tetap saja seseorang tidak pernah “lupa” bagaimana cara menulis yang pernah dipelajarinya. Oleh karena itu dalam grafologi dikenal istilah “brain print” yaitu tulisan tangan adalah sebenarnya tulisan otak. Sudah sering diberitakan, bahwa orang yang kehilangan sebelah tangan yang biasa digunakan menulis, kemudian terpaksa menulis dengan tangan sebelahnya, setelah terbiasa pada akhiranya membentuk ciri-ciri tulisan yang sama.

      Bukti lain bahwa tulisan bahwa tulisan adalah “brain print” adalah tidak ada nya tulisan yang sama persis. Bahkan dalam sebuah kelas dimana diajarkan menulis oleh guru yang sama dan dengan materi yang sama, akan menghasilkan tulisan anak-anak didik yang semuanya berbeda. Hal ini dapat dijelaskan secara grafologi karena tulisan merupakan cerminan dari karakter/kepribadian dan subconscious seseorang (yang tentunya berbeda untuk setiap orang).

      Mudah-mudahan penjelasan singkat ini memperkaya khasanah ilmu kita semua. Salam sukses.

  • infonya sangat menarik

Leave a Reply

Links
Talkshow Gaya FM graphomaster forum
Testimoni Graphomaster


Fan Page
Grapho Master Newsletter
Name: